Minggu, 21 Juni 2015

[028] Al Qashash Ayat 021

««•»»
Surah Al Qashash 21

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
««•»»
fakharaja minhaa khaa-ifan yataraqqabu qaala rabbi najjinii mina alqawmi alzhzhaalimiina
««•»»
Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu 1118) dengan khawatir, dia berdo'a: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu".{ 1118  Maksudnya: merasa sangat khawatir, kalau-kalau ada orang yang menyusul untuk menangkapnya.
««•»»
So he left the city, fearful and vigilant. He said, ‘My Lord! Deliver me from the wrongdoing lot.’
««•»»

Mendengar nasihat yang dikemukakan oleh orang itu dan melihat sikap orang yang menampakkan kejujuran dan keikhlasan, dengan segera ia berangkat tanpa rencana dan persiapan meskipun ia tahu bahwa perjalanan yang akan dilakukannyan itu penuh dengan bahaya dan kesulitan, karena akan mengarungi padang pasir yang luas, padang pasir yang seram dan kejam, yang telah banyak memakan korban. Di samping itu harus berjalan dengan cepat dan selalu waspada, karena di belakangnya telah siap beberapa orang tentara Firaun untuk mengepung dan menangkapnya.

Alangkah hebatnya tekanan yang diderita oleh Musa, tetapi walaupun demikian ia tetap berusaha melepaskan dirinya dan berdoa kepada Tuhannya, "Hai Tuhanku Yang Maha Kuasa, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bebaskanlah aku dari cengkeraman kaum Firaun yang aniaya. Allah mengabulkan doanya dan memimpinnya menempuh jalan raya yang menuju Madyan. Menurut riwayat Firaun memerintahkan kepada tentaranya supaya mengejar Musa ke jalan-jalan kecil yang bercabang dan melarang mereka melalui jalan raya karena ia yakin bahwa Musa tidak mungkin akan menempuh jalan itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir) apakah dirinya akan dapat dikejar oleh orang-orang yang mencarinya atau pertolongan Allah datang menyelamatkan dirinya? (dia berdoa, "Ya Rabbku! Selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu") yaitu, kaum Firaun.
««•»»
So he departed from it, fearful, vigilant, lest any of the pursuers catch up with him, or [in the hope] that God might rescue him. He said, ‘My Lord, deliver me from the evildoing people’, Pharaoh’s people.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 20]•[AYAT 22]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
21of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=21&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:21

Selasa, 12 Mei 2015

[028] Al Qashash Ayat 020

««•»»
Surah Al Qashash 20

وَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَى قَالَ يَا مُوسَى إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ
««•»»
wajaa-a rajulun min aqshaa almadiinati yas'aa qaala yaa muusaa inna almala-a ya/tamiruuna bika liyaqtuluuka faukhruj innii laka mina alnnaasihiina
««•»»
Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu".
««•»»
And there came a man from the city outskirts, hurrying. He said, ‘Moses! The elite are indeed conspiring to kill you. So leave. I am indeed your well-wisher.’
««•»»

Pada ayat ini Allah SWT menerangkan, bahwa seorang laki-laki dari kaum Firaun yang menghadiri musyawarah yang diadakan Firaun bersama pembesar-pembesar dan para cerdik cendikiawan, yang memutuskan bahwa Musa harus dibunuh, datang menjumpai Musa, memberitahukan kepadanya rencana jahat itu, karena ia sangat bersimpati dan hormat kepadanya ia minta supaya Musa segera meninggalkan negeri Mesir; kalau tidak, mungkin ia akan tertangkap dan dibunuh, karena mereka sedang menyiapkan polisi dan tentara rahasia untuk mengepung dan menangkapnya Ia menyatakan kepada Musa semua yang dibicarakannya itu adalah benar dan ia menasihati Musa agar ia lari dengan segera. Nasihat itu benar-benar timbul dari hatinya yang ikhlas dan benar-benar untuk keselamatan Musa sendiri.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan datanglah seorang laki-laki) dia adalah seorang yang beriman dari kalangan keluarga Firaun (dari ujung kota) dari batas kota (bergegas-gegas) berjalan cepat dengan memotong jalan (seraya berkata, "Hai Musa! Sesungguhnya pembesar negeri) dari kalangan kaum Firaun (sedang berunding tentang kamu) maksudnya, mereka sedang bermusyawarah tentang dirimu (untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah) dari kota ini (sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasihat.") yakni, saranku ini -perintah agar kamu keluar- adalah nasihat.
««•»»
And a man, who was the [only] believer among Pharaoh’s kinsfolk, came from the outskirts of the city, hastening, walking fast, via a route quicker than theirs. He said, ‘O Moses, lo! the council, of Pharaoh’s folk, are conspiring, discussing [the means], to slay you. So leave, the city. Truly I am speaking to you in good faith’, in bidding you to leave.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 19]•[AYAT 21]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
20of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=20&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:20

[028] Al Qashash Ayat 019

««•»»
Surah Al Qashash 19

فَلَمّا أَن أَرادَ أَن يَبطِشَ بِالَّذي هُوَ عَدُوٌّ لَهُما قالَ يا موسىٰ أَتُريدُ أَن تَقتُلَني كَما قَتَلتَ نَفسًا بِالأَمسِ ۖ إِن تُريدُ إِلّا أَن تَكونَ جَبّارًا فِي الأَرضِ وَما تُريدُ أَن تَكونَ مِنَ المُصلِحينَ
««•»»
falammaa an araada an yabthisya bialladzii huwa 'aduwwun lahumaa qaala yaa muusaa aturiidu an taqtulanii kamaa qatalta nafsan bial-amsi in turiidu illaa an takuuna jabbaaran fii al-ardhi wamaa turiidu an takuuna mina almushlihiina
««•»»
Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: "Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian".
««•»»
But when he wanted to strike him who was an enemy of both of them, he said, ‘Moses, do you want to kill me, just like the one you killed yesterday? You just want to be a tyrant in the land, and you do not desire to be of those who bring about reform.’
««•»»

Pengampunan Tuhannya telah menjadikan hatinya lega dan lapang, tetapi bagaimana dengan masyarakat yang ia hidup di kalangan mereka ? Apakah mereka akan membiarkannya saja bila pembunuhan itu diketahui oleh mereka? Inilah yang sangat mengganggu ketenteraman hati Musa dan selalu menjadi buah pikirannya. Oleh sebab itu dia dengan sembunyi-sembunyi berjalan kian kemari mendengar-dengarkan apakah perbuatannya itu telah diketahui orang dan bila mereka telah tahu, bagaimana sikap mereka apakah tindakan yang mereka ambil terhadapnya. Ketika ia menyusuri kota itu kelihatan olehnya orang yang ditolongnya dahulu berteriak lagi minta tolong kepadanya agar ia membantunya sekali lagi melawan orang Qibti yang lain.

Rupanya orang yang ditolongnya dahulu itu terlibat lagi dalam persengketaan dan perkelahian dengan orang Mesir pula Mangkin orang itu meminta kepadanya supaya ia membunuh lagi orang Mesir itu sebagaimana ia telah membunuh dahulu. Tergambarlah dalam otaknya bagaimana ia telah berbuat dosa dengan pembunuhan itu tetapi Tuhan dengan rahmat dan kasih sayangnya, telah mengampuni kesalahannya. Apakah ia akan berbuat kesalahan lagi, apalagi ia telah berjanji pula dengan Tuhannya bahwa dia tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Oleh sebab itu ia berkata kepada orang Israel, sesungguhnya engkau ini adalah orang yang seat. Tetapi di samping gambaran itu, tergambar pula dalam pikirannya nasib kaumnya yang terhina yang selalu dianiaya oleh orang-orang Mesir, maka bangkit pulalah rasa amarahnya dan hampir saja ia menyerang orang Mesir itu. Tetapi sebelum ia maju menyerang, orang itu membentaknya dengan mengatakan, apakah engkau hendak membunuhku pula seperti yang engkau lakukan terhadap seseorang kemarin? Rupanya orang itu sudah mengenal rupa dan bentuknya karena orang-orang di kota itu ramai membicarakan pembunuhan itu dan selalu memperbincangkan tentang bentuk dan rupa orang yang melakukan. Kemudian orang Mesir itu membuat bentakan lagi , "Sesungguhnya engkau ini adalah seorang yang ingin menjadi penguasa yang bertindak sewenang-wenang di muka bumi. Engkau bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat baik". Dengan bentakan itu sadarlah Musa kembali dan ingatlah ia akan janjinya bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi sehingga dia tidak jadi memukul orang itu.

Menurut pendapat sebagian mufassirin yang mengucapkan kata-kata tersebut kepada Musa bukanlah orang Mesir tetapi orang Israel yang telah ditolongnya itu, karena Musa menuduhnya sebagai seorang yang sesat dan hendak memukulnya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka tatkala) huruf An di sini adalah Zaidah (Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya) yakni, musuh Musa dan orang Mesir yang mengejarnya (musuhnya berkata) yaitu warga Bani Israel musuh orang Mesir yang meminta tolong kepadanya itu, karena ia menduga bahwa Musa akan memukulnya ("Hai Musa! Apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Tiadalah) yakni tidaklah (kamu bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri ini dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian"). Ketika orang yang meminta tolong kepadanya mengatakan demikian, orang Mesir yang mengerjarnya itu mendengar apa yang dikatakannya, sehingga orang Mesir itu kini mengetahui, bahwa yang membunuh orang kemarin adalah Musa sendiri. Lalu ia pergi kepada Firaun dan menceritakan hal itu kepadanya. Firaun memerintahkan kepada algojo-algojonya untuk menangkap dan membunuh Nabi Musa. Dengan segera para algojo itu berangkat mencari Musa.
««•»»
But when (fa-lammā an: an is extra) he was about to strike the man who was an enemy to both of them, to Moses and the one seeking his help, he, the one seeking help, supposing that Moses was about to strike him, because of what he [Moses] had said to him, said: ‘O Moses, do you want to slay me just as you slew a soul yesterday? You merely want to be a tyrant in the land, and you do not want to be of the reformers’. The Egyptian heard this and realised that the slayer had been Moses. Thus he hurried off to Pharaoh to inform him of this. Pharaoh then ordered slaughterers to slay Moses, and they set off in his direction.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 18]•[AYAT 20]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
19of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=19&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:19

Senin, 20 April 2015

[028] Al Qashash Ayat 018

««•»»
Surah Al Qashash 18

فَأَصبَحَ فِي المَدينَةِ خائِفًا يَتَرَقَّبُ فَإِذَا الَّذِي استَنصَرَهُ بِالأَمسِ يَستَصرِخُهُ ۚ قالَ لَهُ موسىٰ إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبينٌ
««•»»
fa-ashbaha fii almadiinati khaa-ifan yataraqqabu fa-idzaa alladzii istansharahu bial-amsi yastashrikhuhu qaala lahu muusaa innaka laghawiyyun mubiinun
««•»»
Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu de- ngan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)".
««•»»
He rose at dawn in the city, fearful and vigilant, when behold, the one who had sought his help the day before, shouted for his help [once again]. Moses said to him, ‘You are indeed manifestly perverse!’
««•»»

Pengampunan Tuhannya telah menjadikan hatinya lega dan lapang, tetapi bagaimana dengan masyarakat yang ia hidup di kalangan mereka ? Apakah mereka akan membiarkannya saja bila pembunuhan itu diketahui oleh mereka? Inilah yang sangat mengganggu ketenteraman hati Musa dan selalu menjadi buah pikirannya. Oleh sebab itu dia dengan sembunyi-sembunyi berjalan kian kemari mendengar-dengarkan apakah perbuatannya itu telah diketahui orang dan bila mereka telah tahu, bagaimana sikap mereka apakah tindakan yang mereka ambil terhadapnya. Ketika ia menyusuri kota itu kelihatan olehnya orang yang ditolongnya dahulu berteriak lagi minta tolong kepadanya agar ia membantunya sekali lagi melawan orang Qibti yang lain.

Rupanya orang yang ditolongnya dahulu itu terlibat lagi dalam persengketaan dan perkelahian dengan orang Mesir pula Mangkin orang itu meminta kepadanya supaya ia membunuh lagi orang Mesir itu sebagaimana ia telah membunuh dahulu. Tergambarlah dalam otaknya bagaimana ia telah berbuat dosa dengan pembunuhan itu tetapi Tuhan dengan rahmat dan kasih sayangnya, telah mengampuni kesalahannya. Apakah ia akan berbuat kesalahan lagi, apalagi ia telah berjanji pula dengan Tuhannya bahwa dia tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Oleh sebab itu ia berkata kepada orang Israel, sesungguhnya engkau ini adalah orang yang seat. Tetapi di samping gambaran itu, tergambar pula dalam pikirannya nasib kaumnya yang terhina yang selalu dianiaya oleh orang-orang Mesir, maka bangkit pulalah rasa amarahnya dan hampir saja ia menyerang orang Mesir itu. Tetapi sebelum ia maju menyerang, orang itu membentaknya dengan mengatakan, apakah engkau hendak membunuhku pula seperti yang engkau lakukan terhadap seseorang kemarin? Rupanya orang itu sudah mengenal rupa dan bentuknya karena orang-orang di kota itu ramai membicarakan pembunuhan itu dan selalu memperbincangkan tentang bentuk dan rupa orang yang melakukan. Kemudian orang Mesir itu membuat bentakan lagi , "Sesungguhnya engkau ini adalah seorang yang ingin menjadi penguasa yang bertindak sewenang-wenang di muka bumi. Engkau bukanlah termasuk orang-orang yang berbuat baik". Dengan bentakan itu sadarlah Musa kembali dan ingatlah ia akan janjinya bahwa dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi sehingga dia tidak jadi memukul orang itu.

Menurut pendapat sebagian mufassirin yang mengucapkan kata-kata tersebut kepada Musa bukanlah orang Mesir tetapi orang Israel yang telah ditolongnya itu, karena Musa menuduhnya sebagai seorang yang sesat dan hendak memukulnya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir) apa yang bakal dilakukan oleh keluarga orang yang telah dibunuhnya itu terhadap dirinya (maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak-teriak meminta pertolongan kepadanya) maksudnya minta tolong lagi dari orang Mesir yang lain. (Musa berkata kepadanya, "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata.") kesesatannya, karena apa yang telah kamu perbuat kemarin dan sekarang ini.
««•»»
In the morning he was in the city, fearful, vigilant, waiting to see what would happen to him [in reaction] from the side of the slain man; — when behold, the one who had sought his help the day before cried out to him for help [again], asking for his help against another Egyptian. Moses said to him, ‘Clearly you are a trouble-maker!’, whose trouble-making is evident, judging by what you did yesterday and today.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 17]•[AYAT 19]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
18of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=18&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:18

[028] Al Qashash Ayat 017

««•»»
Surah Al Qashash 17

قالَ رَبِّ بِما أَنعَمتَ عَلَيَّ فَلَن أَكونَ ظَهيرًا لِلمُجرِمينَ
««•»»
qaala rabbi bimaa an'amta 'alayya falan akuuna zhahiiran lilmujrimiina
««•»»
Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi ni'mat yang telah Engkau anugerah- kan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa".
««•»»
He said, ‘My Lord! As You have blessed me, I will never be a supporter of the guilty.’
««•»»

Di kala itu ia memohonkan ampun kepada Tuhannya, seraya berkata, "Sesungguhnya aku ini telah menganiaya diriku sendiri dengan melakukan pembunuhan terhadap seorang yang tidak boleh dibunuh maka ampunilah dosaku ini dan janganlah Engkau siksa aku karena perbuatanku yang tidak kusengaja itu". Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, mengampuni kesalahan Musa itu, dan dengan pengampunan itu tenteramlah hati Musa dan bebaslah dia dari kebimbangan dan kesusahan memikirkan nasibnya karena melakukan perbuatan dosa itu. Memang pengampunan itu adalah rahmat dan karunia dari Allah.

Di antara karunia-Nya yang banyak kepada Musa sebagai tersebut dalam firman-Nya:
وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا
Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.
(QS. Thahaa [20]:40)

Karena dosanya telah diampuni Tuhan barulah dia merasa lega dan menyadari bahwa pengampunan itu adalah karena rahmat dan karunia Tuhannya yang diberikan kepadanya. Dia berjanji bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan tidak akan menjadi pembantu bagi orang yang melakukan kesalahan apalagi bantuan itu akan membawa kepada penganiayaan atau pembunuhan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Musa berkata, "Ya Rabbku! Demi nikmat yang telah Engkau limpahkan) (kepadaku) berupa ampunan, peliharalah diriku ini (aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong) yakni menjadi pembantu (bagi orang-orang yang berdosa.") yaitu orang-orang kafir sesudah peristiwa ini, jika Engkau memelihara diriku.
««•»»
He said, ‘My Lord, forasmuch as You have been gracious to me, with forgiveness, protect me [so], I will never be a partisan, a supporter, of the criminals’, the disbelievers henceforth, if you were to protect me.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 16]•[AYAT 18]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
17of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=17&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:17

[028] Al Qashash Ayat 016

««•»»
Surah Al Qashash 16

قالَ رَبِّ إِنّي ظَلَمتُ نَفسي فَاغفِر لي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الغَفورُ الرَّحيمُ
««•»»
qaala rabbi innii zhalamtu nafsii faighfir lii faghafara lahu innahu huwa alghafuuru alrrahiimu
««•»»
Musa mendo'a: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
««•»»
He said, ‘My Lord! I have wronged myself. Forgive me!’ So He forgave him. Indeed He is the All-forgiving, the All-merciful.
««•»»

Di kala itu ia memohonkan ampun kepada Tuhannya, seraya berkata, "Sesungguhnya aku ini telah menganiaya diriku sendiri dengan melakukan pembunuhan terhadap seorang yang tidak boleh dibunuh maka ampunilah dosaku ini dan janganlah Engkau siksa aku karena perbuatanku yang tidak kusengaja itu". Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya, mengampuni kesalahan Musa itu, dan dengan pengampunan itu tenteramlah hati Musa dan bebaslah dia dari kebimbangan dan kesusahan memikirkan nasibnya karena melakukan perbuatan dosa itu. Memang pengampunan itu adalah rahmat dan karunia dari Allah.

Di antara karunia-Nya yang banyak kepada Musa sebagai tersebut dalam firman-Nya:
وقتلت نفسا فنجيناك من الغم وفتناك فتونا
Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.
(QS. Thahaa [20]:40)

Karena dosanya telah diampuni Tuhan barulah dia merasa lega dan menyadari bahwa pengampunan itu adalah karena rahmat dan karunia Tuhannya yang diberikan kepadanya. Dia berjanji bahwa dia tidak akan melakukan kesalahan itu lagi dan tidak akan menjadi pembantu bagi orang yang melakukan kesalahan apalagi bantuan itu akan membawa kepada penganiayaan atau pembunuhan.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Musa berkata,) seraya menyesal ("Ya Rabbku! Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri) karena telah membunuh orang Mesir itu (karena itu ampunilah aku." Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang). Dia bersifat demikian sejak zaman Azali dan untuk selama-lamanya.
««•»»
He said, remorsefully, ‘My Lord, I have indeed wronged myself, by killing him, so forgive me!’ So He forgave him. Truly He is the Forgiving, the Merciful, that is to say, the One Who has always possessed, and will always possess, these two attributes.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 15]•[AYAT 17]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#28:16

[028] Al Qashash Ayat 015

««•»»
Surah Al Qashash 15

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ
««•»»
wadakhala almadiinata 'alaa hiini ghaflatin min ahlihaa fawajada fiihaa rajulayni yaqtatilaani haadzaa min syii'atihi wahaadzaa min 'aduwwihi faistaghaatsahu alladzii min syii'atihi 'alaa alladzii min 'aduwwihi fawakazahu muusaa faqadaa 'alayhi qaala haadzaa min 'amali alsysyaythaani innahu 'aduwwun mudhillun mubiinun
««•»»
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah {1116}, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan {1117} sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).
{1116} Maksudnya: tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat.
{1117} Maksudnya: Musa menyesal atas kematian orang itu disebabkan pukulannya, karena Dia bukanlah bermaksud untuk membunuhnya, hanya semata-mata membela kaumnya.
««•»»
[One day] he entered the city at a time when its people dwelt in distraction. He found there two men fighting, this one from among his followers, and that one from his enemies. The one who was from his followers sought his help against him who was from his enemies. So Moses hit him with his fist, whereupon he expired. He said, ‘This is of Satan’s doing. Indeed he is an enemy, manifestly misguiding.’
««•»»

Pada suatu hari Musa menyelinap masuk ke kota tanpa diketahui orang banyak, yaitu ketika orang-orang sedang tidur siang hari sesudah waktu Zuhur. Di sana ia melihat dua orang sedang berkelahi, yang seorang adalah dari kaum Bani Israel dan seorang lagi dari bangsa Qibti, penduduk asli negeri Mesir yang dianggapnya sebagai musuhnya karena mereka selalu menghina dan menganggap rendah golongan Bani Israel.

Salah seorang dari kaumnya itu berteriak meminta tolong untuk melepaskannya dari kekejaman lawannya. Di waktu itu timbullah amarahnya yang amat sangat dan bangkitlah rasa fanatik kepada kaumnya. Maka dengan cepat ia memburu orang Israel itu dan tanpa memikirkan akibat perbuatannya, karena amarahnya, dipukulnya orang Qibti itu dengan sekuat tenaga.

Akibat pukulan yang dahsyat itu orang Qibti rubuh ke tanah, tidak bergerak lagi, karena ia sudah mati. Sebenarnya Musa tidak sekali-kali bermaksud hendak membunuhnya, tetapi ternyata orang itu sudah mati dengan sekali pukulan saja Musa amat menyesal atas keterlanjurannya itu dan menganggap tindakannya itu adalah tindakan yang salah, tindakan yang tergopoh-gopoh, dan dia berkata kepada dirinya sendiri. "Perbuatanku ini adalah perbuatan setan yang selalu memperdayakan manusia agar melakukan kelaliman dan maksiat Sesungguhnya aku telah terperosok masuk perangkap setan yang menjadi musuh manusia yang selalu berusaha untuk menyesatkannya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan masuklah) Musa (ke kota) yakni ke kota Firaun, yaitu kota Memphis, sesudah sekian lama ia meninggalkannya (ketika penduduknya sedang lengah) yaitu, pada saat orang-orang istirahat di siang hari (maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari bangsanya) dari kalangan Bani Israel (dan seorang lagi dari musuhnya) yakni, seorang bangsa Mesir.

Pada mulanya orang Mesir itu menghina warga Bani Israel itu sewaktu orang Mesir itu menyuruhnya untuk membawa kayu bakar ke dapur raja Firaun. (Maka orang yang dari bangsanya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya)

Musa berkata kepada orang Mesir itu, "Lepaskanlah dia dan biarkan dia pergi!". Menurut suatu riwayat disebutkan, bahwa orang Mesir itu berkata kepada Musa, "Sungguh aku berniat untuk menyeretnya ke hadapanmu" (lalu Musa meninjunya) memukulnya dengan kepalan tangannya. Musa sangat kuat lagi keras pukulannya (dan musuhnya itupun mati).

Musa telah membunuhnya, padahal Musa tidak bermaksud untuk membunuh, lalu ia menguburnya di dalam pasir (Musa berkata, "Ini adalah) membunuh orang ini (perbuatan setan) yang telah menggelorakan amarahku (sesungguhnya setan itu adalah musuh) bagi anak Adam (yang menyesatkan) dia (lagi nyata.") permusuhannya.

««•»»
And he, Moses, entered the city, Pharaoh’s city, Memphis, having been absent from it for a while, at a time when its people were oblivious, the time of the afternoon nap, and found therein two men fighting, one of his own faction, namely, an Israelite, and the other of his enemies, in other words, an Egyptian, who was exploiting an Israelite to carry firewood to Pharaoh’s kitchen. So the one who was of his faction called to him for help against the one who was of his enemies, and so Moses said to him, ‘Leave him be!’, and it is said that he replied to Moses [thus]: ‘I am truly considering making you carry this [firewood]!’. So Moses punched him, that is, he hit him with his fist clenched — he [Moses] was a strong man with a powerful strike, and did away with him, that is, he killed him, but he had not intended to kill him. He buried him in the sand. He said, ‘This, killing of him, is of Satan’s doing, inciting my anger. Indeed he is an enemy, to the son of Adam, a manifest misleader’, of him.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

•[AYAT 14]•[AYAT 16]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of88
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=28&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#28:15